Review singkat mengenai film ini dengan menggunakan 1 kata : GOKIL!
Diproduksi atas kerjasama PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, film “NAGABONAR jadi 2” (NBj2) didedikasikan kepada Almarhum Drs Asrul Sani yang telah menciptaan tokoh rekaan NAGABONAR, pencopet yang diangkat jadi Jenderal dalam perang kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan, NAGABONAR (Deddy Mizwar) seorang diri berhasil membesarkan anaknya, BONAGA (Tora Sudiro), buah hati hasil pernikahannya dengan KIRANA (almarhumah), yang kini sukses jadi pengusaha di Jakarta.
Sebagai anak, BONAGA memiliki persamaan watak dan karakter dengan Bapaknya; jujur, bertanggungjawab, dan juga sama-sama tak mampu menyatakan cinta pada wanita. Dengan jiwa kepemimpinannya, BONAGA bersama POMO (Darius Sinathrya), RONNIE (Uli Herdinansyah), JAKI (Michael Muliadro), mengelola bisnis yang strategis. BONAGA bersama tiga sahabatnya merupakan cermin anak muda modern: metroseksual, pintar, cerdas, dan dinamis.
Film ini mungkin hanya sepersekian dari film indonesia yang bisa bikin gw bener bener ngerasain emosi selain sebel. Film ini sendiri seperti prekuel nya, Nagabonar, bener bener bagus.
Adanya Deddy Mizwar ( yang akhirnya gw ketahui sebagai Sutradara nya ) bikin gw yakin mulai dari awal kalo ini bakal film yang bagus. Selain beliau juga udah jadi legenda hidup di kalangan sineas, melalui film ini pula lah beliau bisa mengangkat tren kehidupan masa kini dan memberikan kritik beliau secara sangat kreatif.
NAGABONAR jadi 2 bisa jadi merupakan film yang bisa mengangkat lagi film film indonesia yang bagus, yang nggak cuma berisi film horror cupu semata. Sebab, selama ini mungkin mereka hanya berani membuat film horror karena mereka menganggap hanya film horror lah yang di cari saat ini. Istilahnya, tenar dan menghasilkan duit banyak.
NAGABONAR jadi 2 dikemas pada film 35mm bukan untuk meramaikan kancah film horror yang makin lama makin jatuh kualitas nya. Sebenarnya,
NAGABONAR jadi 2 adalah sebuah film serius yang hanya bisa dinikmati oleh kaum tua, generasi sebelum kita. Ditambah dengan Deddy Mizwar yang main di film ini, sudah pasti kalo ABG² itu kemungkinan nggak mau nonton film ini sama sekali.
Padahal
NAGABONAR jadi 2, biarpun film serius, dikemas dengan alunan yang sangat menarik dan penuh komedi. Deddy Mizwar berhasil membuat sebuah tren, konflik masa kini yang terjadi, disimpulkan secara mudah dan kadang dipecahkan masalah nya dengan simbol Nagabonar itu sendiri. Masalah modernisasi, tren masa kini, nasionalisme, dan lain lain, dilihat melalui sudut pandang anak muda. Pesan yang disampaikan juga secara anak muda. Membuat film ini kemungkinan akan banyak ditonton oleh anak muda lain, yang diberi sedikit review oleh reviewer kampung sok tau kaya gw
Overall, film ini nggak terlalu jelas di depan, tapi mulai jelas di menit2 terakhir. Sekitar 20-30 menit terakhir lah. Lupa nggak ngecek jam. Banyak adegan, hampir di seluruh film malah, bisa jadi dibilang adegan ambigu. 1 adegan dengan banyak sekali makna. Buat kalian yang sedikit mau mikir waktu nonton film, kemungkinan akan mengalami hal yang sama kaya gw. Di saat yang lain ketawa karena kelucuan adegannya, lo malah nangis. Dan disaat adegan yang paling sedih, lo malah senyum. Bukan, bukan gw psikopat. Tapi emang pesan yang disalurkan melalui film ini begitu rupa bentuknya sehingga memang bikin masing masing individu akan menanyakan kepada diri sendiri, bagaimana saya di kondisi seperti itu.
NAGABONAR jadi 2 jelas film yang lintas generasi. Ada beberapa ibu2 tua berkebaya yang nonton bareng gw tadi. Buat yang nonton sama orang tua nya, atau anaknya, gw jamin pasti dapet sesuatu setelah nonton film ini. Jujur aja, NAGABONAR jadi 2 bikin gw inget banyak sekali momen. Momen paling susah seumur hidup gw, momen kehilangan eyang dan relatives gw, momen bapak-anak gw yang sempat nggak mulus, momen ini, momen itu, bikin gw jadi mensyukuri bahwa hal itu telah berlalu dan sekarang kita lebih dewasa dan lebih siap.
NAGABONAR jadi 2 bener bener film yang layak tonton.
Gw ga bisa komen apa apa tentang kualitas aktingnya. Performance nya bagus semua. Memang ada sih beberapa adegan dimana Tora kembali menjadi Tora, bukan Bonaga. Tapi itupun nggak cukup kentara kalo nggak biasa memperhatikan film. Adegan kecil tukang karpet, yang diperankan oleh Indra Birowo pun diperankan dengan sangat baik. Sesuai dengan role nya.
Om Deddy menurut gw sudah sangat berhasil memberikan semua pesan yang bisa disampaikan melalui film ini. Dan semoga om, ini bukan yang terakhir. Semoga ada role dimana berpasangan sama Didi Petet lagi. Akhir kata, gw dorong kalian buat nonton film ini. Enggak rugi nonton film Indonesia dengan kualitas segila ini. Empat jempol, Delapan deh, minjem punya Salsabeela.
Dan bagi yang udah nonton, share pengalaman kalian disini ok ? Kalo mau nonton lagi, ajak2 gw, gw bersedia nonton film ini lagi untuk kedua, ketiga atau ke seratus kalinya. Nggak gw nggak hiperbolik. Serius.